skip to Main Content

Budidaya kopi organik menjadi pilihan beberapa pekebun. Harganya menggiurkan, hasilnya menjanjikan.

Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jajang Slamet Soemantri, S.P., S.P.

Kantong-kantong berisi biji kopi beras—biji kopi tanpa kulit—berbobot 5 kg terpajang dalam acara Jatim Expo untuk memperingati Hari Perkebunan ke-61 di Surabaya pada Desember 2018. Kopi beras itu berasal dari Desa Amadanom, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Buah kopi itu berasal dari pohon robusta Coffea canephorahasil budidaya organik. Luas kebun kopi di Amadanom yang menerapkan sistem organik mencapai 50 ha milik 139 pekebun yang tergabung dalam 3 kelompok tani.

Mengapa mereka membudidayakan kopi secara organik? “Harga jual lebih tinggi,” ujar petugas penyuluh lapangan (PPL) Kecamatan Dampit, Jajang Slamet Soemantri, S.P. Menurut Jajang harga kopi beras robusta organik asal Amadanom Rp60.000 per kg. Harga robusta nonorganik Rp35.000—Rp40.000 per kg. Penjualan mayoritas ke kafe atau kedai. Para pengunjung kebun kopi Desa Amadanom juga terbiasa menikmatinya. Maklum, kopi Amadanom dan Dampit secara umum sohor sebagai kopi enak.

Hemat pupuk

Para pekebun kopi Amadanom mulai membudidaya kopi organik pada 2016 setelah Dinas Perkebunan Jawa Timur membuat plot demonstrasi (demplot). Mereka panen buah kopi yang hanya mendapat asupan dari pupuk fermentasi (bokashi) itu pada Juni 2017. Hasilnya anjlok tidak sampai separuh dari biasanya. Rata-rata produksi hanya 500 kg per ha, padahal sebelumnya 1,5 ton per ha. Menurut Jajang hal itu lantaran masa peralihan.

 

Kopi robusta organik di BSP Farm semula untuk penaung kapulaga.

 

“Tiga tahun pertama produksi turun tapi nantinya kembali normal,” kata alumnus Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Padjadjaran itu. Menurut pakar ilmu tanah di Departemen Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Iswandi Anas Chaniago, tanaman lambat menyerap nutrisi dari pupuk organik lantaran ukuran molekul lebih besar. Oleh karena itu, perlu mikrob yang membantu penguraian pupuk organik agar siap serap. Di sisi lain, mikrob juga memerlukan waktu menguraikan bahan organik dalam pupuk.

Pengunjung belajar memanggang kopi di BSP Farm.

Mikrob juga harus mendominasi tanah untuk membentuk lingkungan bernama rizosfer. Namun, begitu rizosfer terbentuk, kinerja akar lebih optimal lantaran nutrisi terkumpul dekat perakaran. Saat itu produksi mulai meningkat. Terbukti pada 2018 panen naik menjadi 600 kg kopi beras per ha. Yang jelas, begitu berorganik pekebun hemat biaya pupuk, hanya Rp1,05 juta (baca “Ramu Pupuk Kopi Organik” halaman 122—125).

Bandingkan, sebelumnya ketika membudidayakan kopi anorganik, mereka harus membelanjakan Rp3,33 juta—Rp3,45 juta untuk pupuk. Untuk “menambal” berkurangnya pendapatan akibat penurunan panen, pekebun kopi di Amadanom membuat ekowisata. Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) juga menganjurkan pekebun mengubah strategi pemasaran.

Biasanya pekebun menjual kopi dalam bentuk biji beras, kini mereka menjual biji kopi panggang (roasted bean) dalam kemasan kecil (100 gram, 200 gram, 250 gram, atau 500 gram). Meski jumlahnya sedikit, penjualan eceran itu meningkatkan nilai jual kopi berkali-kali lipat. Dengan demikian, pendapatan pekebun dari menjual 1 kg secara eceran hampir setara menjual 2—3 kg biji kopi curah. Lembaga Organik Seloliman (LeSOS) memberikan sertifikat organik pada April 2018.

Urine kelinci

Penanggungjawab produksi BSP Farm, Halimi Effendi.

BSP Farm di Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, juga menerapkan cara serupa. Pada 2005, sang pemilik mengkonversi BSP menjadi pertanian organik. “Kopi justru bisa disebut organik sejak awal lantaran tidak pernah mendapat pupuk apa pun,” kata penanggung jawab produksi Kebun BSP, Halimi Effendi. Meski terbilang organik salah kaprah, budidaya secara alami itu mempermudah konversi tanaman kopi menjadi organik. Saat ini yang produktif adalah 6 klon robusta. Pada 2010, BSP memperoleh sertifikasi organik dari USDA Organic dan Biocert International.

Sebagai penyubur, pekerja kebun memberikan kompos berbahan campuran pupuk kandang sapi dan kotoran kelinci dengan perbandingan 2:1. Setiap tanaman memperoleh 1—2 kg kompos itu 2 kali setahun. Pupuk cair berbahan urine kelinci juga rutin mereka semprotkan 2—4 pekan sekali. Hasilnya, produksi mencapai 1,2—1,4 kg kopi beras per tanaman.

Pemasaran mengandalkan lapak daring (online) dan berbagai komunitas organik. Harga robusta organik berlabel “Kopi Loji” itu lumayan, Rp75.000 per kemasan 250 gram. Pekebun kopi di Amadanom dan BSP Farm membuktikan budidaya robusta organik selain melestarikan lingkungan juga bisa menebalkan kocek.

sumber : http://www.trubus-online.co.id/mereka-melirik-kopi-organik/

Welcome to CCRA website
Send via WhatsApp
Back To Top